Posted in

Pendampingan Pengawas di MA Masyithah: Menguatkan Pendidikan Berbasis Cinta di Bulan Ramadhan

Bulan puasa sering dipahami sebagai waktu untuk mengurangi aktivitas. Padahal sesungguhnya, Ramadhan justru mengajarkan kesadaran yang lebih dalam terhadap setiap amal. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih hati untuk jujur, pikiran untuk jernih, dan langkah untuk lebih bermakna.

Karena itu, pendampingan guru dan kepala madrasah dalam merefleksikan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak seharusnya berhenti hanya karena Ramadhan. Justru di bulan inilah refleksi menemukan ruhnya. Sebab KBC berbicara tentang cinta, ketulusan, empati, dan kemanusiaan—nilai-nilai yang sedang ditempa secara langsung oleh ibadah puasa.

Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan besar sering lahir dari keheningan dan perenungan. Maka mendampingi guru dan kepala madrasah untuk berhenti sejenak, menengok kembali praktik pembelajaran, dan bertanya dengan jujur:
“Apakah cinta sudah benar-benar hadir dalam cara kita mendidik?” Apakah budaya cinta dan welas asih di madrasah sudah ada perubahan perlahan-lahan menjadi lebih humanis, ramah anak dan ramah lingkungan. Apakah perilaku bullying sdh turun prosentasenya. Dan itulah refleksi yang sesungguhnya.

Jika puasa adalah kurikulum langit yang membentuk hati manusia, maka refleksi KBC di madrasah adalah ikhtiar bumi untuk memastikan pendidikan tetap berjalan dengan cinta.

Sebab mendidik dengan cinta tidak mengenal musim.
Termasuk di bulan puasa, ia justru menemukan maknanya yang paling dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *